Safari Subuh, Bupati: Ini Sebagai Bagian Pembinaan Karakter
Tenggarong – Safari Subuh kembali digelar oleh Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr. Aulia Rahman Basri beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar 1447 H/ 2026 M, di Pondok Pesantren (Ponpes) Baitul Izza, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kelurahan Panji Kecamatan Tenggarong, Jumat (3/4) pagi.
Kegiatan diawali dengan salat Subuh berjamaah di Imami KH. Yunus dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kukar. Di lanjutkan penyerahan Al Quran oleh Bupati Kukar kepada pengurus Yayasan Ponpes Baitul Izza.
Sekretaris Daerah Sunggono, Asisten Umum Administrasi Dafip Haryanto, para Kepala OPD, unsur Muspika, Lurah, tokoh Alim Ulama, tokoh Masyarakat, serta penggagas Safari Subuh Kukar Edi Damansyah yang Ketua Umum DMI Kabupaten Kukar turut hadir dalam acara ini.
Bupati Aulia, menekankan betapa
pentingnya konsistensi dalam menjalankan kegiatan Safari Subuh. Sebagai bagian dari pembinaan karakter aparatur pemerintah, dan mengungkapkan program ini merupakan amanah yang terus ditekankan oleh Edi Damansyah.
“Beliau selalu menitipkan agar kegiatan Safari Subuh ini terus dijalankan secara konsisten,” ujarnya.
Menjadi aparatur pemerintah menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan dan kemampuan teknis semata. Menurutnya, yang paling utama adalah memiliki akhlak mulia.
“Cari orang pintar itu mudah, cari orang hebat juga mudah tapi yang terpenting adalah menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Tidak hanya baik di depan pimpinan, tetapi benar-benar tercermin dalam keseharian, biar nya pintar biarnya hebat tapi ndik pernah mau umpat safari subuh ndik usah dijadikan pejabat, begitu pesan Pak Edi,” tegasnya.

Komitmen mengikuti kegiatan keagamaan seperti Safari Subuh menjadi indikator penting dalam menilai integritas seorang pejabat. Aulia juga mengapresiasi perkembangan Ponpes Baitul Izza yang dinilainya sangat pesat. Ia mengaku terkesan dengan pembangunan fasilitas pesantren yang mampu diselesaikan dengan anggaran terbatas.
“Ini luar biasa. Dengan anggaran terbatas bisa terbangun sebesar ini. Ini bisa jadi contoh, bahkan bagi jajaran teknis seperti Dinas PU Kukar,” sebutnya.

Pesantren di Kukar baik dari LDII, NU maupun Muhammadiyah didorong untuk turut mencetak SDM di bidang teknik, seperti Sipil dan Arsitektur. Menurutnya, hal ini dapat membuka peluang lahirnya kontraktor lokal berbasis pesantren yang kompeten dan berdaya saing.
“Bisa didorong untuk kerja sama, bahkan membuat semacam pendidikan atau sertifikasi bagi calon kontraktor di Kukar,” demikian jelas Aulia. (prokom05)




