Bupati Hadiri Acara Seluang Mudik, Dimeriahkan Betebak Beras
TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr Aulia Rahman Basri menghadiri acara Seluang Mudik di Museum Mulawarman Tenggarong, Sabtu (27/9) malam.
Hadir dalam acara tersebut , Forkopimda, Sekda Kukar Dr H Sunggono, Ibunda dr Aulia Rahman Basri Hj. Ratnaningsih berserta Andi Deescha Aulia, Hj Sulastri AZ Gelar Aji Ratu Sekar Asih, Hj Yulaikah Sunggono, sejumlah tamu kehormatan pihak Kesultanan, Kepala dinas instansi dan undangan lainnya.

Acara seluang mudik ini merupakan rangkaian terakhir kegiatan upacara bepelas yang digelar selama Erau adat berlangsung. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, suasana malam ketujuh Festival Erau berlangsung lebih semarak. Pada malam tersebut, selain ritual bepelas, juga dilakukan beberapa ritual khusus yang hanya diselenggarakan pada malam itu.
Seluang mudik, betebak beras merupakan ritual saling melempar beras di antara para hadirin yang hadir pada malam terakhir bepelas. Ritual ini melambangkan rasa syukur atas anugerah kemakmuran pangan yang diberikan Sang Pencipta kepada Kesultanan Kutai Kartanegara. Beras digunakan sebagai alat melempar karena merupakan makanan pokok masyarakat Kutai sehingga menjadi simbol kemakmuran pangan. Selain sebagai wujud rasa syukur, melalui ritual ini, diharapkan hasil panen masyarakat akan semakin meningkat di masa yang akan datang.

Prosesi seluang mudik betebak beras diawali dengan dipertunjukannya tari kanjur (atau disebut juga kanjar) oleh para kerabat Kesultanan dan Sekda Kukar Dr H Sunggono dan Wakil Ketua DPRD Kukar Abdul Rasid dinobatkan untuk menari bersama, kemudian dilanjutkan dengan tari kanjur bini yang dilakukan oleh pihak Kesultanan didampingi istri Bupati Andi Deescha Aulia Rahman, Yulaikah Sunggono dan para tamu.
Setelah itu , dilakukan besawai oleh seorang pawang atau sesepuh yang lalu dilanjutkan dengan menaburkan beras sri weja kuning kepada para hadirin sambil dibacakan doa Shalawat Nabi oleh pihak kesultanan.

Penaburan beras sri weja kuning menjadi penanda dimulainya behambur beras oleh para hadirin sebagai bagian dari seluang mudik betebak beras. Di setiap sudut ruang, pihak Keraton telah menyediakan wadah-wadah berisi beras bagi para hadirin. Semua yang hadir di Ruang Stinggil (Siti Hinggil) Keraton terlibat dalam prosesi tersebut, baik sebagai pelaku maupun target. Tak terkecuali Sultan, sesepuh Kesultanan, bahkan Bupati Kutai Kartanegara serta tamu kehormatan lainnya juga ikut hanyut dalam kemeriahan prosesi ini. Banyak tamu yang hadir mengambil atau memungut beras yang dilemparkan untuk digunakan sebagai penglaris jualan, dibikin bedak basah (pupur dingin) dan banyak lagi khasiatnya dari beras yang dilemparkan tersebut.
Ritual akan berakhir ketika suara alunan gamelan yang mengiringi tari kanjur melemah dan akhirnya berhenti dimainkan.(Prokom03).































(Prokom06)







