Bupati Kukar Buka Rakor Tim Percepatan Stunting
TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara dr Aulia Rahman Basri membuka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Kutai Kartanegara, di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis ( 11/12).
Kegiatan ini digelar oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DP2KB Kukar dihadiri Wakil Bupati Kukar H Rendi Solihin, Setdakab Kukar DR H Sunggono, Plt DP2KB Dafip Haryanto, Para Camat Se- Kukar, unsur Muspida, para Kepala OPD yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Kutai Kartanegara pada intervensi Spesifik dan intervensi sensitive, Ketua TP-PKK Kabupaten Andi Deezha Pravidhia Aulia Rahman Basri, TP-PKK Kecamatan, Kelurahan/Desa, Organisasi Profesi IDI, PPNI, PERSAGI, HAKLI dan organisasi profesi kesehatan lainnya baik yang hadir secara luring maupun daring.

Menurut Ketua panitia pelaksana H Dafip Haryanto yang juga selaku Plt Kadis DP2KB mengatakan, Maksud dan tujuan pelaksanaan rakor TPPSkabupaten Kukar Tahun 2025 adalah untuk mereview pelaksanaan percepatan penurunan stunting tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, membangun dan menguatkan koordinasi, komunikasi dan sinergisitas kolaborasi lintas sektoral Tingkat kabupaten, kecamatan dan desa dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting, merumuskan strategi, langkah langkah kerja serta komitmen bersama dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting kabupaten, kecamatan dan desa. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan rakor ini tersusunnya hasil review pelaksanaan percegahan dan penurunan stunting tingkat kabupaten beserta tindaklanjutnya. Adanya kesepakatan menguatkan membangun dan meningkatkan koordinasi, komunikasi dan sinergisitas kolaborasi lintas sektoral tingkan kabupatem, kecamatan dan desa. Adanya rumusan strategis dan komitmen bersama dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Kegoiatan ini diikuti secara luring 100 orang dan secara daring 500 orang. Dengan mengambil Thema ” Penguatan Peran TPPS kecamatan dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Bertidak sebagai narasumber Arifin Hutagalung Ditjen Bangda Kemendagri, Perwakilan Kemenduk Bangga / BKKBN Provinsi Kaltim, serta Wakil Ketua TPPS Kukar DR H Sunggono.
Sementara itu, Bupati Kukar dr Aulia Rahman Basri dalam sambutannya mengatakan, kondisi stunting di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan dari tahun ke tahun, dari 24,4% (2021) menjadi 19,8% (2024). Sedangkan kondisi di Kalimantan Timur meskipun turun, namun bisa dikatakan mengalami penurunan yang lambat, yaitu 22,8% (2021) menjadi 22,2% (2024). Kutai Kartanegara sendiri memiliki prevalensi stunting terendah yaitu 14,2% (2024), angka yang terus turun dengan signifikan jika melihat perjalanan penurunannya yaitu 26,4% (2021), 27,1% (2022), dan 17,6% (2023). Dengan pencapaian tersebut, Kutai Kartanegara patut berbahagia karena dinyatakan sebagai kabupaten dengan penurunan stunting terbaik di Provinsi Kalimantan Timur. Angka tersebut tidak dengan tiba-tiba muncul begitu saja, namun penuh dengan berbagai upaya yang sudah kita laksanakan bersama.
Tantangan terbesarnya adalah untuk menjaga konsistensi prevalensi stunting Kukar agar terus mengalami penurunan. Untuk itu, apa yang sudah dilakukan oleh Kukar dalam upaya dan konvergensi penurunan stunting ini dapat terus berlanjut. Pencegahan dan percepatan penurunan stunting bukan lagi mengharapkan peran pemerintah daerah, namun sudah menjadi kewajiban kita secara bersama untuk melakukan upaya dalam mengawal anak-cucu kita menjadi generasi emas di masanya nanti.

Aulia juga menambahkan, Kita masih menghadapi tantangan lainnya dalam penurunan stunting ini. Meskpun sudah terjadi perbaikan, namun beberapa wilayah masih memiliki prevalensi tinggi. Hal ini menuntut sinergi seluruh pemaangku kepentingan untuk melakukan intervensi spesifik dan intervensi sensitif secara optimal. Sehingga peran TPPS menjadi penting dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk pelaksanaan koordinasi dengan semua lintas sektor pada level desa/kelurahan, kecamatan hingga TPPS kabupaten.
Untuk itu, ia menghimbau agar semua camat bisa melakukan fungsi tersebut pada jajarannya serta berkoordinasi terkait intervensi spesifik dan intervensi sensitif dalam mendukung percepatan penurunan stunting di masing-masing wilayahnya.
Salah satu penguatan strategi percepatan penurunan Stunting tersebut melalui pendekatan keluarga dengan melakukan pendampingan secara optimal pada keluarga yang mempunyai risiko Stunting. Didalam pelaksanaannya, TPK (Bidan, Kader PKK dan Kader KB) akan melakukan pendampingan dengan berkolaborasi di tingkat lapangan untuk melaksanakan pendampingan ke keluarga yang berisiko Stunting dengan melakukan pendataan, penyampaian informasi, pemberian edukasi dan beberapa hal yang meliputi upaya preventif & promotif agar tidak terjadi kasus Stunting di kemudian hari. Kualitas TPK ini juga harus menjadi perhatian TPPS di Desa/Kelurahan. Karena semestinya TPK itu bukan hanya melakukan pendataan, tetapi juga melakukan pendampingan agar keluarga sasaran termotivasi secara bersama untuk melakukan upaya pencegahan agar tidak terlahir anak-anak stunting baru pada keluarga.
TPPS desa/kelurahan harus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kemajuan pendampingan keluarga dan perbaikan faktor risiko yang dihadapi oleh sasaran tersebut. Keterlibatan pihak-pihak terkait seperti sektor kesehatan, kecamatan, pertanian, peternakan, sosial, KUA, PKK, sektor industri dan perdagangan, lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya serta sektor swasta yang keberadaannya tersebar di banyak tempat. Sudah menjadi kewajaran dan keharusan agar semua pihak ini juga berkontribusi dalam upaya penurunan stunting, demi menciptakan generasi masa depan yang unggul dan berkualitas. Selain itu, monitoring dan evaluasi berbasis data yang akurat untuk menilai kualitas capaian program agar menjadi fokus perhatian TPPS Kecamatan dalam melakukan pencatatan dan pelaporan. Hal ini diperlukan supaya yang kita lakukan betul-betul terstruktur dan terukur.

Upaya peningkatan derajat kesehatan, perbaikan gizi dan pengentasan stunting sangat diperlukan karena anak-anak merupakan generasi penerus kita di masa depan nanti yang harus dipersiapkan agar menjadi sumber daya yang berkualitas untuk memajukan daerah, bangsa dan Negara.
Dalam mewujudkan Kutai Kartanegara dengan Generasi Masa Depan yang gemilang, Pemerintah Daerah sangat memberikan dukungan agar kegiatan percepatan penurunan stunting ini terus berproses secara optimal dengan kerjasama serius antar OPD terkait. Hal-hal yang menjadi kendala baik kendala administratif maupun kendala operasional agar bisa didiskusikan dan disampaikan supaya segera dapat dilakukan upaya tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Dengan komitmen seluruh pihak, Aulia Rahman berharap Kutai Kartanegara dapat menjadi Kabupaten yang berhasil menurunkan stunting secara signifikan di tahun-tahun selanjutnya, sehingga tidak ada lagi wilayah kecamatan yang memiliki tren prevalensi stunting yang tinggi. “Mari bersama kita ciptakan generasi mendatang tumbuh dengan sehat, cerdas, dan produktif. Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan inovasi demi masa depan anak-anak bangsa,” harap Aulia Rahman Basri. ( Prokom 03 ).




