Bupati Kukar Hadiri Prosesi Beluluh Sultan Jelang Erau Adat Kutai 2026
TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr. Aulia Rahman Basri menghadiri prosesi Beluluh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI Sultan Aji Muhammad Arifin, di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Tenggarong, Kamis (17/9/2026).
Prosesi Beluluh tersebut merupakan bagian penting dalam rangkaian Erau Adat Kutai Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 20 hingga 27 September 2026. Kegiatan dihadiri unsur Forkopimda, Kepala Perangkat Daerah, Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tokoh masyarakat dan adat, budayawan, seniman serta undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Bupati Aulia menyampaikan penghormatan kepada Sultan, kerabat Kesultanan, pemangku adat, pelaku seni budaya dan masyarakat yang secara turun-temurun menjaga keberlanjutan Erau.
Menurutnya, Beluluh bukan sekadar prosesi adat, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara sejarah, adat, kepemimpinan dan kehidupan masyarakat Kutai Kartanegara. Dalam Perda Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 2 Tahun 2016, Beluluh ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian Upacara Adat Erau dan dimaknai sebagai pembersihan diri Sultan agar mendapatkan keselamatan.

“Erau tidak tepat dipahami semata-mata sebagai keramaian atau tontonan budaya. Erau adalah ruang pewarisan nilai, ruang perjumpaan antargenerasi, sekaligus ruang yang memperlihatkan bahwa kebudayaan tetap hidup ketika dijaga, dipahami, dan diberi tempat yang terhormat di tengah perubahan zaman,” ujar Aulia.
Ia menegaskan, makna Beluluh juga memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama dalam menghadapi perubahan sosial, kemajuan teknologi dan perkembangan ekonomi. Menurutnya, akar budaya yang kokoh diperlukan agar kemajuan tetap memiliki arah, etika dan jati diri.

Bupati juga mengajak masyarakat memaknai tema Erau Adat Kutai 2026, “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya”, sebagai pesan tentang kebersamaan, saling menghormati dan tanggung jawab dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Lebih lanjut, Aulia mengingatkan agar semakin dikenalnya Erau di tingkat nasional dan internasional tidak mengurangi nilai kesakralan dan marwah adat. Ia mengajak masyarakat maupun pengunjung mengikuti seluruh rangkaian Erau dengan tertib serta menghormati tata cara dan simbol-simbol adat yang berlaku.

Pemkab Kukar, lanjutnya, berkomitmen mendukung pelestarian adat istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura melalui kerja kebudayaan sepanjang tahun, penguatan pendidikan budaya lokal, dokumentasi dan arsip, pembinaan seniman dan pelaku adat, perlindungan objek pemajuan kebudayaan serta pengembangan ruang ekspresi dan ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Warisan budaya tidak cukup hanya disimpan, namun ia harus diwariskan. Ia tidak cukup hanya dipentaskan; ia harus dipahami. Dan ia tidak cukup hanya dibanggakan; ia harus dijaga dengan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur di dalamnya,” tegasnya.
Dalam riwayatnya, Upacara Adat Beluluh telah dikenal sejak masa Kerajaan Kutai Kartanegara dan dimaknai sebagai upacara pembersihan diri. Dalam prosesi tersebut, belian dan dewa mengucapkan mantra atau doa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar yang diluluh di atas balai haor kuning mendapatkan keselamatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugasnya.

Bupati berharap seluruh rangkaian Erau Adat Kutai 2026 berjalan aman, tertib dan lancar serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Ia juga mengajak seluruh pihak bersama-sama menjaga marwah Erau, menghormati adat dan mewariskan kebudayaan Kutai kepada generasi mendatang. (Prokom04)




