Seluang Mudik Belimbur Beras Meriahkan Malam Ketujuh Erau Adat Kutai 2026
TENGGARONG – Suasana malam ketujuh Festival Erau Adat Kutai 2026 berlangsung meriah dengan digelarnya ritual Seluang Mudik Betebak/Belimbur Beras di Museum Mulawarman, Tenggarong, Sabtu malam (26/9/2026). Ritual tersebut menjadi salah satu rangkaian penutup upacara Bepelas yang dilaksanakan selama berlangsungnya Erau Adat Kutai.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, malam ketujuh Bepelas diwarnai sejumlah ritual khusus yang hanya dilaksanakan pada malam terakhir. Salah satunya adalah Seluang Mudik Betebak Beras, sebuah tradisi yang sarat makna filosofis dan menjadi bagian penting dalam pelestarian adat serta budaya Kesultanan Kutai Kartanegara.

Ritual tersebut turut dihadiri Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri bersama istri, Andi Deezca Pravidhia Aulia, Ketua DPRD Kukar H Ahmad Yani, Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur Bambang Arwanto, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Seluang Mudik Betebak Beras merupakan tradisi saling melempar beras di antara para hadirin pada malam terakhir upacara Bepelas. Ritual ini melambangkan rasa syukur atas anugerah kemakmuran dan keberlimpahan pangan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Kesultanan Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat.

Beras dipilih sebagai simbol dalam ritual tersebut karena merupakan makanan pokok masyarakat Kutai yang memiliki nilai penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjadi ungkapan rasa syukur, tradisi ini juga mengandung harapan agar hasil panen masyarakat pada masa mendatang semakin meningkat dan kehidupan senantiasa dilimpahi keberkahan.
Prosesi Seluang Mudik Betebak Beras diawali dengan pertunjukan Tari Kanjur atau dikenal juga dengan Tari Kanjar yang dibawakan oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, Ketua DPRD Kukar H Ahmad Yani, serta Kepala ESDM Provinsi Kaltim Bambang Arwanto turut dinobatkan untuk menari bersama.

Selanjutnya, prosesi dilanjutkan dengan Tari Kanjur Bini yang dibawakan oleh pihak Kesultanan dengan didampingi istri Bupati Kukar, Andi Deezca Pravidhia Aulia. Rangkaian tarian tersebut menjadi bagian dari prosesi adat yang menambah semarak suasana malam penutupan Bepelas.
Setelah pertunjukan tari, ritual dilanjutkan dengan besawai yang dipimpin seorang pawang atau sesepuh adat. Prosesi kemudian diteruskan dengan penaburan beras Sri Weja Kuning kepada para hadirin, diiringi pembacaan selawat Nabi oleh pihak Kesultanan.
Penaburan beras Sri Weja Kuning menjadi tanda dimulainya prosesi behambur beras. Para hadirin yang berada di Ruang Stinggil (Siti Hinggil) Keraton kemudian saling melempar beras yang telah disediakan dalam wadah-wadah di sejumlah sudut ruangan.

Suasana pun semakin meriah ketika seluruh tamu yang hadir turut terlibat dalam prosesi tersebut. Tidak hanya masyarakat dan tamu undangan, Sultan, para sesepuh Kesultanan, Bupati Kukar, serta sejumlah pejabat dan tamu kehormatan juga ikut berbaur dalam tradisi saling melempar beras.
Menariknya, sebagian hadirin juga memungut beras yang bertebaran untuk dibawa pulang. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, beras yang digunakan dalam ritual tersebut diyakini memiliki keberkahan dan dapat dimanfaatkan, antara lain sebagai penglaris usaha maupun bahan pembuatan bedak basah atau pupur dingin.
Tradisi Seluang Mudik Betebak Beras tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga mengandung nilai budaya, kebersamaan, dan rasa syukur. Ritual ini menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.

Melalui pelaksanaan Erau Adat Kutai, berbagai ritual tradisional terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar warisan budaya leluhur tetap dikenal dan dilestarikan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Kesultanan, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dengan berlangsungnya Seluang Mudik Betebak Beras, rangkaian upacara Bepelas pada malam ketujuh Erau Adat Kutai 2026 ditutup dalam suasana penuh kebersamaan dan kegembiraan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga adat istiadat serta menghargai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.(Prokom06).




